Makna Mudik Abdul Mu’ti: Cari Spiritual Refreshing hingga Rindu Sayur Bening Ibu

Mendikdasmen Abdul Mu'ti (Dok. Kemendikdasmen)

Seantero.id, JAKARTA – Tradisi pulang kampung atau mudik menjelang Lebaran selalu memiliki cerita unik, tak terkecuali bagi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Di tengah kesibukannya mengurus pendidikan nasional, tokoh yang dikenal santun ini sudah merencanakan perjalanan menuju kampung halaman untuk merayakan Idulfitri 1447 Hijriah.

Berbeda dengan pejabat yang mungkin memilih jalur udara agar lebih cepat, Abdul Mu’ti justru memilih menikmati perjalanan lewat jalur darat. Beliau mengaku lebih nyaman menggunakan kendaraan sendiri untuk pulang ke rumah orang tuanya.

“Insyaallah tanggal 18 saya mudik, dan saya pakai perjalanan darat. Naik mobil pribadi,” kata Abdul Mu’ti setelah menghadiri acara buka puasa bersama komunitas difabel di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Bagi beliau, kepulangan kali ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah proses pemulihan diri. Ia membagi makna Lebaran ke dalam tiga poin penting yang sangat esensial bagi kehidupan seorang individu maupun mahluk sosial.

“Idulfitri itu bagi saya ada tiga momen. Pertama momen refreshing, tapi yang penting adalah spiritual refreshing dan social refreshing. Kita menyegarkan spiritualitas kita dan juga menyegarkan relasi sosial kita,” ujarnya dengan tenang.

Selain penyegaran jiwa dan relasi, momen kebersamaan dengan orang-orang lama juga menjadi hal yang paling dinanti. Beliau menganggap pertemuan dengan kawan lama adalah bumbu kebahagiaan di hari raya.

“Momen yang kedua itu reunion. Biasanya kita ketemu teman-teman sekolah, teman-teman lama,” tambah Muti. Tak berhenti di situ, ia juga melihat sisi produktif dari perjalanan ini sebagai bentuk rekreasi pikiran untuk mendatangkan inovasi baru.

“Momen berikutnya tentu recreation, kita memiliki ide baru, gagasan baru untuk menjadikan momentum mudik itu sebagai bagian dari kita mendapatkan inspirasi untuk memperbaiki diri dan memperbaiki kinerja,” jelasnya lagi.

Namun, di atas semua agenda tersebut, alasan terkuatnya pulang adalah bakti dan rindu kepada sang ibu. Abdul Mu’ti mengenang kesederhanaan masakan rumah yang tidak bisa digantikan oleh kuliner mewah sekalipun.

“Kalau di ibu itu biasanya sayur bening. Itu dari dulu paling suka, kemudian ikan, tahu tempe, sama sambal. Kayaknya enak semua, yang lebih bikin enak lagi adalah dimasaknya dengan penuh cinta,” pungkasnya di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Kisah ini mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, kehangatan keluarga dan doa seorang ibu tetap menjadi tujuan utama untuk pulang. (Sen)

Share it:

Baca Juga