Seantero.id, JAKARTA – Ketegangan global yang melibatkan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump terus menyita perhatian dunia. Namun, di balik pernyataan-pernyataan keras yang dilontarkan sang Presiden AS, sejumlah akademisi menilai hal tersebut tidak lebih dari sekadar strategi komunikasi untuk menekan lawan.
Pakar hubungan luar negeri melihat adanya pola yang berulang dalam cara Trump menangani situasi konflik. Alih-alih langkah militer nyata, narasi yang dibangun di ruang publik cenderung berfungsi sebagai alat diplomasi transaksional. Strategi ini dianggap sebagai retorika politik yang dirancang untuk mendapatkan posisi tawar lebih tinggi di meja perundingan.
Akademisi Associate Professor Uhamka (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka), Dr. Emaridial Ulza, memberikan analisis mendalam terkait fenomena ini. Ia menyoroti bagaimana media sosial sering kali dijadikan senjata utama oleh Trump untuk menciptakan persepsi kemenangan.
“Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis,” kata Dr. Emaridial Ulza dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Bidang Hubungan Luar Negeri ini menjelaskan bahwa aksi saling gertak tersebut justru berisiko memperburuk keadaan jika tidak dibarengi dengan aksi nyata di lapangan. Apalagi, dukungan dari negara-negara sekutu Barat terlihat mulai memudar.
“Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika politik semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik. Apalagi ditambah dengan tidak ikut sertanya negara sekutu seperti Britania Raya atau juga Spanyol menyusul Jerman yang tidak akan terlibat langsung dalam perang ini memperkuat bahwa Trump butuh negosiasi,” tegasnya.
Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, posisi strategis Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dianggap sangat krusial. Keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace serta keterlibatan aktif dalam blok BRICS menjadi modal besar untuk menjadi juru damai dunia.
“Indonesia dalam posisi berada di Board of Peace bentukan Trump dan juga Indonesia bagian dari BRICS bisa menjadi penghubung, walaupun tidak secara langsung, minimal niat baik Presiden Prabowo sedikit mengurangi ketegangan dengan segala konsekuensi yang didapatkan,” tutur Emaridial Ulza menutup penjelasannya.
Upaya diplomasi yang diambil pemerintah Indonesia diharapkan mampu meredam gejolak di Timur Tengah sekaligus membuktikan bahwa perdamaian abadi hanya bisa dicapai melalui dialog, bukan sekadar lewat unggahan di media sosial. (Sen)









