Seantero.id, JAKARTA – Kabar memprihatinkan datang dari sektor pelayanan publik di ibu kota. Sebanyak tiga orang Pegawai SPBU di kawasan Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, dilaporkan menjadi korban tindak kekerasan. Insiden yang memicu luka fisik ini diduga melibatkan oknum aparat yang tengah mengisi bahan bakar.
Peristiwa tersebut terjadi di SPBU 3413901 pada awal pekan ini. Kejadian bermula ketika petugas berusaha menjalankan prosedur resmi terkait pengisian BBM bersubsidi. Namun, ketegasan dalam menegakkan aturan justru berujung pada tindakan main hakim sendiri yang dialami oleh para pekerja di lapangan.
Staf SPBU 3413901, Mukhlisin, membenarkan adanya dugaan penganiayaan tersebut saat dimintai keterangan oleh awak media. “Iya betul, ada tiga korban pegawai kami yang diduga dianiaya oleh oknum aparat,” kata Mukhlisin (38) saat ditemui di SPBU Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (23/2/2026).
Mukhlisin menceritakan bahwa pemicu utama perselisihan adalah ketidaksesuaian data kendaraan pada sistem barcode MyPertamina. Sesuai regulasi, petugas dilarang melayani pengisian Pertalite jika identitas kendaraan tidak cocok dengan data digital yang tertera.
“Pelanggan tersebut mengisi Pertalite. Nomor barcode-nya sesuai, tapi mobilnya tidak sesuai dengan yang terdaftar. Jadi, peraturan di SPBU, nomor polisi dan mobil harus sesuai dengan datanya,” jelas Mukhlisin mengenai duduk perkara masalah tersebut.
Pihak operator sebenarnya telah menawarkan solusi agar pelanggan beralih ke produk non-subsidi agar tidak perlu menggunakan proses verifikasi data yang ketat. “Kalau tidak sesuai barcode, kami arahkan ke Pertamax. Karena Pertamax tidak pakai barcode, jadi tetap bisa dilayani. Untuk Pertalite memang wajib sesuai data,” ujar Mukhlisin.
Sayangnya, saran tersebut justru direspons dengan kekerasan fisik. Ketiga Pegawai SPBU yang sedang bertugas mengalami cedera di bagian wajah akibat serangan mendadak tersebut. Kondisi fisik para pekerja dilaporkan cukup mengkhawatirkan karena hantaman yang keras.
“Khoirul Anam kena tamparan di pipi. Lukman dipukul di rahang sebelah kanan. Sementara Abud dipukul di bawah mata dan di pipi dekat mulut sampai giginya goyang,” tutur Mukhlisin merinci penderitaan para korban.
Hingga saat ini, pihak manajemen masih memberikan waktu bagi para korban untuk memulihkan kondisi kesehatan maupun mental mereka. “Saat ini mereka syok, tapi cukup istirahat di rumah masing-masing,” pungkas Mukhlisin mengakhiri pembicaraan pada Senin (23/2/2026). (Sen)









