Skema MBG Ramadan 2026 Berubah: Gandeng UMKM, Menu Kurma hingga Penganan Lokal Jadi Andalan

Menu MBG (Detik.news)

Seantero.id, JAKARTA – Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah pada tahun 2026, pemerintah melakukan penyesuaian signifikan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyiapkan strategi khusus agar program andalan ini tetap berjalan optimal bagi jutaan siswa sekolah yang menjalankan ibadah puasa. Alih-alih makan siang bersama di kantin sekolah seperti hari biasa, distribusi makanan kini diubah menjadi paket nutrisi yang dibawa pulang ke rumah.

Langkah transformatif ini diambil guna memastikan anak-anak sekolah tetap memperoleh asupan gizi berkualitas saat waktu berbuka tiba. Penyesuaian tersebut tidak hanya menyangkut pergeseran waktu makan, tetapi juga mencakup pemilihan jenis bahan pangan yang dibagikan. Fokus utama pemerintah adalah menyajikan hidangan yang praktis, bergizi tinggi, serta memiliki daya simpan yang lebih lama agar tetap segar saat dikonsumsi sore hari.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, memberikan keterangan resmi mengenai teknis pelaksanaan program ini di lapangan. “Untuk anak sekolah yang mayoritas di daerah puasa, itu makanannya akan berupa makanan yang tahan lama ya, yang untuk dibawa pulang dan untuk dikonsumsi saat buka,” ujar Kepala BGN Dadan Hindayana di Balai Kota Jakarta pada Selasa (10/2/2026).

Terkait isi paket nutrisi tersebut, pemerintah telah menyusun daftar menu yang sangat identik dengan tradisi berbuka namun tetap mengedepankan standar kesehatan nasional. Menu tersebut mencakup buah-buahan hingga sumber protein hewani yang diolah secara khusus. “Kita sudah tetapkan lebih banyak terkait dengan contohnya kurma, kemudian telur rebus atau telur asin, telur pindang. Kemudian ada abon, buah, susu, dan penganan-penganan lokal,” jelas Dadan lebih lanjut dalam kesempatan yang sama.

Menariknya, program ini menjadi peluang besar bagi para pelaku UMKM di berbagai pelosok daerah. Pengadaan penganan lokal, telur asin, hingga abon dipastikan akan menyerap produk-produk buatan usaha kecil menengah di sekitar lokasi sekolah atau satuan pelayanan gizi. Keterlibatan UMKM lokal dinilai sangat strategis untuk memastikan ketersediaan bahan pangan segar sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan sepanjang bulan Ramadan.

Melalui kolaborasi apik antara pemerintah dan sektor UMKM, diharapkan manfaat program MBG tidak hanya dirasakan oleh para siswa, tetapi juga oleh masyarakat luas. Dengan sistem distribusi yang efisien sebelum jam pulang sekolah, program ini diprediksi menjadi solusi tepat dalam menjaga ketahanan fisik generasi bangsa selama menjalankan ibadah puasa di tahun 2026 ini. (Sen)

Share it:

Baca Juga