Demam Tanpa Gejala, Hati-Hati Potensi DBD

Ilustrasi nyamuk Aeides Aegypti. (Ist)

Seantero.id, PENAJAM – Memasuki masa peralihan musim, Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan demam yang muncul tanpa penyebab yang jelas. Kondisi tersebut dinilai sebagai salah satu indikasi awal Demam Berdarah Dengue (DBD) yang perlu segera ditangani.

Penata Kelola Layanan Kesehatan Dinkes PPU, Ponco Waluyo, mengatakan demam tinggi yang tidak disertai gejala umum seperti batuk, pilek, atau sakit tenggorokan patut menimbulkan kewaspadaan. Menurutnya, masyarakat kerap terlambat memeriksakan diri karena menganggap demam sebagai penyakit ringan.

“Kalau demamnya tidak jelas penyebabnya, tidak batuk pilek, itu harus dicurigai. Jangan menunggu sampai kondisinya berat,” kata Ponco.

Ia menjelaskan, penelusuran riwayat aktivitas juga menjadi bagian penting dalam pemeriksaan awal. Di beberapa wilayah PPU, aktivitas di area hutan masih memiliki risiko penyakit lain seperti malaria, sehingga perlu dibedakan sejak awal melalui pemeriksaan medis.

Ponco menekankan pentingnya deteksi dini dengan memanfaatkan layanan pemeriksaan cepat, seperti tes NS1 antigen maupun Rapid Diagnostic Test (RDT), yang dapat dilakukan sejak hari pertama hingga hari keempat demam. Langkah ini dinilai efektif untuk mencegah komplikasi serius pada pasien.

“Begitu ada demam tanpa sebab, sebaiknya langsung ke puskesmas atau fasilitas kesehatan. Pemeriksaan awal itu sangat menentukan,” ujarnya.

Terkait penanganan, Ponco mengingatkan bahwa hingga saat ini belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan DBD karena disebabkan oleh virus. Fokus perawatan lebih diarahkan pada pemenuhan cairan dan nutrisi pasien agar kondisi tubuh tetap stabil.

“Asupan cairan itu kunci. Mau air putih, susu, makanan favorit anak, bahkan es krim boleh, yang penting cairan dan nutrisinya tercukupi,” jelasnya.

Ia menambahkan, pasien DBD yang sudah terkonfirmasi umumnya akan menjalani perawatan untuk mencegah risiko syok atau kondisi berat lainnya. Oleh sebab itu, keterlambatan penanganan sangat berpotensi membahayakan keselamatan pasien.

Meski demikian, Ponco menyebut tren kasus DBD di PPU menunjukkan perbaikan. Dalam dua tahun terakhir, tidak tercatat adanya kematian akibat penyakit tersebut, berbeda dengan periode sebelumnya.

“Alhamdulillah, dua tahun terakhir tidak ada kematian akibat DBD. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat dan penanganan sudah lebih baik,” ucapnya.

Dinkes PPU kembali mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, memberantas sarang nyamuk, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tanpa penyebab yang jelas. Upaya pencegahan dinilai tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko DBD. (Bey)

Share it:

Baca Juga