Seantero.id, JAKARTA – Tragedi meninggalnya siswa SD kelas 4 berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Turut mendapat sorotan dari pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Ungkapan prihatin atas meninggalnya siswa SD di Ngada, NTT. Disampaikan Wakapolri Komjen Dedy Prasetyo dalam siaran pers, Jumat (6/2/2026).
Wakapolri dalam keterangannya mengatakan bahwa tekanan ekonomi keluarga yang membuat siswa yang meninggal akibat bunuh diri tersebut gambaran dari kurangnya pengawalan atau pengawasan program pemerintah untuk kesejahteraan.
Ia menyebut bahwa pihaknya sangat merasa berduka atas meninggalnya YBR, yang mengakhiri hidupnya karena masalah tekanan ekonomi keluarga yang tidak mampu.
“Polri sangat prihatin dan menyatakan duka yang mendalam atas peristiwa tragis yang terjadi di Ngada,” ucapnya.
“Di mana seorang anak mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga dan tidak mampu membeli alat tulis sekolah,” tuturnya.
Ia menegaskan harus adanya optimalisasi program kesejahteraan yang telah disiapkan pihak pemerintah agar benar-benar dapat tepat pada sasaran.
Dalam penjelasannya, Dedi menyinggung skema Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang telah disiapkan di pemerintahan Presiden Prabowo yang tujuannya mempercepat pengentasan kemiskinan akut di Tanah Air.
Dedi Prasetyo memastikan Polri akan turut hadir di tengah-tengah masyarakat Tanah Air, untuk dapat memastikan program-program pemerintah yang dimaksud dapat terealisasi dengan baik, hingga kejadian seperti meninggalnya siswa SD di Ngada, NTT, tidak terjadi lagi di masa mendatang.(Dd)









