Seantero.id, PENAJAM – Rencana Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) untuk merevitalisasi Pelabuhan Penyeberangan Penajam menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Wakil Bupati PPU Abdul Waris Muin menyebut perbedaan pendapat tersebut sebagai bagian dari dinamika pembangunan yang tidak bisa dihindari.
Menurut Waris, munculnya pro dan kontra justru menunjukkan adanya perhatian masyarakat terhadap arah pembangunan daerah, khususnya kawasan strategis yang selama ini menjadi pintu masuk PPU.
“Kalau ada yang setuju dan tidak setuju, itu hal biasa. Artinya masyarakat peduli dengan pembangunan di daerahnya,” ujarnya, Selasa (20/1).
Ia mengungkapkan bahwa gagasan penataan kawasan pelabuhan sebenarnya telah lama direncanakan dan bukan muncul secara tiba-tiba. Sejak beberapa periode kepemimpinan sebelumnya, kawasan pelabuhan telah diproyeksikan sebagai salah satu etalase daerah yang mencerminkan wajah PPU.
Seiring peran PPU sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), kebutuhan penataan kawasan dinilai semakin mendesak.
Kendati demikian, Waris mengakui, realisasi rencana tersebut tentu membawa konsekuensi, termasuk potensi dampak terhadap permukiman warga di sekitar pelabuhan.
“Dalam konsep yang ada, pasti ada tahapan yang harus dilalui, termasuk penataan ulang kawasan dan relokasi. Itu tidak bisa dihindari, tapi semua harus dibicarakan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa revitalisasi pelabuhan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari penataan perwajahan kota secara menyeluruh.
Menurutnya, meski PPU telah berusia lebih dari dua dekade, masih banyak kawasan yang membutuhkan pembenahan agar terlihat lebih representatif.
“PPU sudah 23 tahun, sebentar lagi 25 tahun. Tapi kita harus jujur, masih banyak yang perlu dibenahi agar wajah daerah ini lebih tertata,” ungkap Waris.
Pemerintah daerah, lanjutnya, telah melakukan komunikasi awal dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah provinsi dan para pemangku kepentingan yang berada di sekitar kawasan pelabuhan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan rencana pembangunan berjalan sesuai koridor dan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
“Kawasan pelabuhan ini salah satu titik strategis. Kondisinya selama ini sering jadi sorotan, maka perlu penataan yang lebih baik,” ujarnya.
Waris memastikan, setiap kebijakan yang diambil tidak dimaksudkan untuk merugikan masyarakat. Ia menekankan pentingnya dialog terbuka agar warga memahami tujuan dan manfaat jangka panjang dari revitalisasi tersebut.
“Tujuan kita memperbaiki, bukan menggusur tanpa solusi. Semua harus melalui komunikasi dan kesepahaman,” pungkasnya. (Bey)









