Dinkes PPU Pastikan Stok Obat Aman di Tengah Kenaikan BBM

Harga obat-obatan dipastikan tetap stabil. (Seantero)

Seantero.id, PENAJAM – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), khususnya terhadap kelancaran distribusi obat-obatan dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan principal farmasi.

Meski biaya distribusi berpotensi meningkat, kondisi ketersediaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan PPU hingga kini masih terpantau aman.

Plt Kepala Dinkes PPU, dr. Lukasiwan Eddy Saputro, mengatakan belum ada laporan mengenai gangguan pasokan obat yang berkaitan dengan kenaikan biaya distribusi.

“Untuk saat ini kita masih belum terdampak. Stok di instalasi farmasi kabupaten aman, kemudian di puskesmas-puskesmas juga insyaallah sampai saat ini laporannya masih aman,” kata Lukasiwan, Minggu (30/8).

Ia menjelaskan, distribusi obat tetap perlu mendapat perhatian karena sebagian kebutuhan fasilitas kesehatan di PPU berasal dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat kelancaran rantai pasok menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketersediaan obat.

Kenaikan harga BBM sendiri dapat berpengaruh terhadap biaya operasional pengiriman. Namun, sejauh ini belum terlihat dampak terhadap pasokan obat yang diterima fasilitas kesehatan di PPU.

Dinkes juga memastikan obat generik untuk pelayanan kesehatan pemerintah masih tersedia. Penggunaan obat generik tetap menjadi prioritas sesuai ketentuan yang berlaku.

“Obat generik insyaallah pasokannya masih ada. Tidak ada pembatasan, tetapi memang wajib menggunakan obat generik,” ujarnya.

Sementara itu, untuk kebutuhan obat dan terapi khusus, salah satunya pelayanan onkologi, PPU saat ini belum memiliki fasilitas pelayanan tersebut di rumah sakit daerah.

Keterbatasan tenaga medis, infrastruktur, serta peralatan menjadi sejumlah faktor yang membuat pelayanan onkologi belum dapat dilakukan di daerah.

“Untuk onkologi kita memang belum ada pelayanan. SDM-nya belum ada, infrastrukturnya maupun alat-alatnya juga belum ada,” jelas Lukasiwan.

Pasien PPU yang membutuhkan penanganan onkologi masih mendapatkan rujukan ke rumah sakit pengampu di luar daerah, di antaranya RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan dan RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Dinkes PPU akan terus memantau stok obat, terutama komoditas yang bergantung pada pasokan dari luar daerah. Pemantauan dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila kenaikan biaya distribusi nantinya mulai memengaruhi kelancaran pengiriman obat ke fasilitas kesehatan. (Adv/Bby)

Share it:

Baca Juga