Hadapi Cuaca Ekstrem, Distan PPU Bekali Petani dengan Strategi Adaptasi

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan. (Seantero)

Seantero.id, PENAJAM – Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mendorong petani melakukan sejumlah langkah adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu produksi pertanian.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan, mengatakan pihaknya telah menyampaikan sejumlah langkah adaptasi kepada koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan kepala tim kerja untuk diteruskan kepada petani di lapangan.

“Kami sudah bersurat melalui rekan-rekan koordinator BPP dan kepala tim kerja. Ada tujuh atau delapan item yang memang kami berikan,” ujar Gunawan, Selasa (1/9).

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit, menggunakan varietas berumur pendek, serta melakukan penanaman secara serentak.

“Contoh sederhana, menggunakan varietas yang tahan terhadap hama penyakit. Kemudian menggunakan varietas yang memang umurnya pendek, kemudian melakukan penanaman serentak dan lain sebagainya,” jelasnya.

Menurut Gunawan, langkah tersebut telah disampaikan melalui surat sebanyak dua kali untuk menjadi acuan petani dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.

Adaptasi diperlukan untuk menekan potensi gagal panen akibat perubahan cuaca maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Sehingga bisa mengantisipasi atau meminimalisir kegagalan panen karena cuaca ekstrem ataupun serangan hama penyakit yang memang pada saat ini lagi gentar-gentarnya,” katanya.

Ia menjelaskan, cuaca ekstrem tidak hanya ditandai dengan kekurangan curah hujan. Hujan dengan intensitas tinggi maupun hujan yang turun secara tiba-tiba dan tidak menentu juga dapat masuk dalam kategori kondisi ekstrem yang perlu diwaspadai petani.

“Namanya cuaca ekstrem itu kan tidak hanya karena curah hujan yang tidak ada, tetapi curah hujan tinggi dan curah hujan yang tiba-tiba dan secara sporadis itu juga bagian daripada cuaca ekstrem,” ungkapnya.

Di sisi lain, Gunawan mengatakan Dinas Pertanian PPU belum memiliki anggaran khusus untuk menggelar pelatihan adaptasi perubahan iklim bagi petani muda. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kebijakan efisiensi anggaran.

“Pelatihan secara khusus melalui Dinas Pertanian dan dengan pembiayaan secara khusus belum ada. Karena efisiensi dan kami tidak ada anggaran untuk itu,” ujarnya.

Meski keterbatasan anggaran menjadi tantangan, Dinas Pertanian tetap berupaya menjalankan pendampingan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia serta memperkuat koordinasi di berbagai lini.

“Gimana caranya dengan situasi kondisi yang sulit ini kita tetap bergerak dengan mengandalkan berbagai macam sumber daya yang ada,” tuturnya.

Gunawan mencontohkan pengembangan komoditas cabai di PPU yang menurutnya menunjukkan hasil positif dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2023 hingga sekarang, PPU disebut mengalami surplus produksi cabai secara tahunan, meski kondisi surplus tersebut terbagi berdasarkan periode produksi.

Ia menilai penguatan koordinasi antarpihak menjadi penting agar pendampingan kepada petani tetap berjalan meskipun dukungan anggaran terbatas.

“Anggaran yang kami keluarkan itu kan juga tidak banyak, tetapi kami mengandalkan atau istilahnya memperkuat segala lini untuk bersatu padu,” pungkas Gunawan. (Adv/Bby)

Share it:

Baca Juga