Seantero.id, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai menyusun strategi untuk menghadapi dampak musim kemarau yang mulai mengganggu sektor pertanian.
Sedikitnya 223 hektare lahan sawah di wilayah PPU kini terancam mengalami kekeringan dan berisiko gagal panen.
Bupati PPU Mudyat Noor mengatakan pemerintah membagi penanganan krisis air ke dalam dua prioritas, yakni menjaga pasokan air bersih bagi masyarakat dan menyiapkan sumber air untuk kebutuhan irigasi pertanian.
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan air minum menjadi langkah yang lebih didahulukan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
“Kita sudah rapat. Memang yang kita utamakan saat ini lebih kepada penyediaan untuk kebutuhan air bersih dan air minum, karena ini menyangkut kehidupan dasar dan kesehatan masyarakat,” ujar Mudyat, Minggu (6/9).
Di sektor pertanian, kondisi kekeringan mulai mengancam lahan sawah yang tersebar di sejumlah wilayah.
Data Dinas Pertanian PPU menunjukkan luas lahan yang berpotensi terdampak mencapai 223 hektare selama periode Juli hingga Agustus 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena PPU saat ini memiliki Lahan Baku Sawah (LBS) seluas 7.508 hektare yang menjadi penopang produksi pangan daerah.
Untuk mengantisipasi berkurangnya pasokan air bersih, pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah sumber cadangan.
Dua embung disebut memiliki kapasitas sekitar 4 hingga 6 juta meter kubik dan sedang dikoordinasikan dengan pemerintah pusat untuk pemanfaatannya.
“Kalau dua sumber air ini sudah berjalan maksimal, biarpun kemarau berlangsung hingga satu tahun, kebutuhan air bersih kita aman,” katanya.
Sementara itu, penurunan debit mulai terjadi di Embung Lawe-Lawe yang selama ini menjadi salah satu sumber air baku.
Debit air turun dari sekitar 140 liter per detik menjadi 80 liter per detik, sedangkan tinggi muka air menyusut dari 190 sentimeter menjadi 125 sentimeter.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab PPU menyiapkan sumber air alternatif.
Tahap awal, pasokan akan ditopang dari Waduk Waru. Selain itu, pemerintah juga mengkaji pemanfaatan salah satu void atau lubang bekas tambang yang memiliki kapasitas air cukup besar.
“Tahap pertama, kita menggunakan cadangan dari Waduk Waru. Yang kedua nanti kita akan menggunakan dari salah satu void (lubang bekas tambang) yang besar sekali, kapasitasnya masih kita tunggu hitungannya,” jelas Mudyat.
Meski begitu, Mudyat mengakui penyediaan air untuk pertanian memiliki tantangan lebih besar dibanding kebutuhan air rumah tangga. Irigasi sawah membutuhkan debit air dalam jumlah besar, sedangkan kondisi geografis PPU tidak didukung keberadaan sungai air tawar yang memadai.
“Kalau untuk pertanian butuh debit air yang sangat besar sekali dan semuanya berhubungan langsung dengan alam. Keberadaan sungai air tawar kita di Penajam agak sulit, Sungai Etam bisa dikatakan hampir tidak ada. Ini yang masih kita cermati,” pungkasnya. (Adv/Bby)









