Seantero.id, BANTEN – Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas sejak 4 September 2026, dan saat ini dampaknya mulai dirasakan oleh warga di luar wilayah Banten.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda saat ini dilaporkan telah sampai ke wilayah DKI Jakarta.
Beberapa netizen di media sosial membagikan foto atau video yang menampilkan abu vulkanik yang mulai menyelimuti rumah hingga sejumlah fasilitas umum.
Dalam akun Instagram @jktinfo, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tampak mulai memenuhi area perkantoran di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada 6 September 2026 pagi.
Hingga saat ini, kondisi Gunung yang berada di Selat Sunda tersebut masih berstatus Level III atau Siaga. Pihak terkait mengimbau warga untuk dapat tetap tenang dan waspada dengan sebaran abu yang berisiko pada kesehatan.
Diketahui abu vulkanik yang berasal dari gunung berapi memiliki karakteristik keras, abrasif, bersifat asam dan juga tidak larut dalam air, jika terhirup atau mengenai beberapa anggota tubuh, sejumlah risiko kesehatan berpotensi muncul.
Berikut ini 4 bahaya dari abu vulkanik yang perlu diwaspadai.
1. Gangguan pernapasan
Kelompok rentan seperti anak-anak lansia hingga penderita penyakit pernapasah diharapkan dapat berhati-hati dengan partikel halus tersebut karena dapat memicu sesak napas, batuk kering, hingga infeksi saluran pernapasan.
2. Masalah penglihatan
Abu vulkanik berpotensi menyebabkan konjungtivitas atau peradangan pada mata karena partikelnya yang tajam.
Beberapa gejala yang mungkin muncul seperti perih, gatal, hingga luka gores kornea.
3. Iritasi kulit
Paparan langsung pada kulit dapat menyebabkan iritasi seperti perih, rasa panas atau munculnya ruam.
4. Ancaman silikosis
Silikosis terjadi akibat paparan debu silika dalam waktu lama yang menyebabkan luka atau jaringan parut di paru-paru. Adapun gejalanya berupa batuk kronis hingga penurunan berat badan.
Meski terlihat hampir sama dengan debu biasa, masyarakat diminta tidak meremehkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang saat ini menyebar ke sejumlah wilayah hingga DKI Jakarta, karena sifatnya yang berbeda dengan debu biasa. (Dd)









