Seantero.id, PENAJAM – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan Pelabuhan Ferry Penajam, di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tetap beroperasi normal meski tengah dilakukan pekerjaan rehabilitasi fasilitas dermaga. Informasi yang beredar di media sosial maupun sejumlah platform digital mengenai penutupan total pelabuhan selama 10 hari dipastikan tidak benar.
Supervisi Bisnis dan Pelayaran ASDP Ferry Penajam, Heru Sulistriono, menegaskan bahwa kabar yang menyebut seluruh aktivitas penyeberangan dihentikan merupakan informasi yang menyesatkan dan tidak sesuai kondisi di lapangan.
“Yang beredar itu hoaks. Pelabuhan tidak tutup. Yang ditutup sementara hanya dermaga yang sedang dikerjakan, bukan tutup total,” kata Heru saat ditemui di ruangannya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Heru, informasi yang beredar berasal dari surat internal terkait pekerjaan rehabilitasi yang diajukan pihak pelaksana (vendor) pekerjaan kepada ASDP. Surat tersebut bukan ditujukan untuk publik, melainkan sebagai bagian dari koordinasi teknis antara kontraktor dan pemberi kerja.
“Surat itu sebenarnya surat vendor kepada kami terkait metode pekerjaan. Itu internal. Mereka menyampaikan rencana pekerjaan dan kebutuhan teknis di lapangan. Saya juga tidak tahu bagaimana bisa bocor dan kemudian beredar luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pekerjaan yang dilakukan saat ini merupakan rehabilitasi pencor beton (breasting dolphin) atau struktur pelindung sandaran kapal di Dermaga 2. Selama proses pengerjaan berlangsung, operasional penyeberangan tetap berjalan menggunakan Dermaga 1.
“Yang tutup total sementara itu Dermaga 2 yang sedang diperbaiki. Dermaga lainnya tetap beroperasi melayani penyeberangan. Jadi tidak benar kalau disebut Pelabuhan Penajam tutup,” tegasnya.
Penjelasan tersebut juga diperkuat melalui surat pemberitahuan resmi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Balikpapan Nomor UM.003/0023/III/ASDP-BPP/2026 tertanggal 1 Juni 2026. Dalam surat itu disebutkan bahwa rehabilitasi dilakukan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta kelancaran operasional pelabuhan.
Heru menyayangkan munculnya pemberitaan yang langsung menyimpulkan pelabuhan akan berhenti beroperasi tanpa melakukan konfirmasi kepada pihak ASDP terlebih dahulu.
“Harusnya dikonfirmasi dulu. Jangan hanya melihat surat yang beredar lalu menyimpulkan pelabuhan tutup. Akibatnya masyarakat jadi panik dan keliru,” bilang Heru.
Ia menilai penggunaan istilah “pelabuhan tutup” dapat menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat, terutama pengguna jasa penyeberangan yang setiap hari mengandalkan lintasan Penajam–Balikpapan.
“Pelabuhan itu bukan hanya satu dermaga. Kalau satu dermaga diperbaiki bukan berarti seluruh pelabuhan berhenti beroperasi. Ini yang perlu dipahami. Apalagi di Penajam ini ada banyak pelabuhan, nah ini bisa rancu kalau tidak jelas redaksinya,” paparnya.
Meski demikian, Heru mengakui pengoperasian satu dermaga selama masa rehabilitasi berpotensi menimbulkan antrean kendaraan pada jam-jam tertentu. Oleh sebab itu, ia berpesan kepada masyarakat agar mengantisipasi kemacetan antrean dengan memilih jalur Sepaku-Km 38 Balikpapan.
“Kalau ramai itu pasti karena ada antrean dan hanya dilayani satu dermaga saja. Tetapi kalau ingin buru-buru bisa dialihkan ke Sepaku tembus ke Km 38 Balikpapan,” ucapnya.
Berdasarkan jadwal pekerjaan, rehabilitasi Dermaga 2 berlangsung pada 5 hingga 14 Juni 2026 atau selama 10 hari lamanya. Setelah pekerjaan di dermaga tersebut selesai, perbaikan akan dilanjutkan pada dermaga lainnya secara bertahap tanpa menghentikan seluruh aktivitas penyeberangan.
Kondisi ini juga tidak menutup operasional yang kapal Ferry. Saat ini, tercatat 12 kapal ferry yang melintasi teluk Balikpapan dan beroperasi selama 24 jam.
“Idealnya saat ini satu dermaga untuk 6 kapal dengan menyesuaikan jadwal hingga 4 trip sehari. Jadi adanya perbaikan, itu memanfaatkan dermaga 1,” ungkap Heru.
Heru menjelaskan perbaikan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan operasional pelabuhan. Struktur yang diperbaiki sebelumnya mengalami kerusakan akibat benturan kapal sehingga perlu segera direhabilitasi.
“Kalau tidak diperbaiki justru berbahaya. Ini untuk keselamatan pelayanan ke depan. Yang diperbaiki bukan fasilitas kecil, tetapi struktur yang setiap hari menerima benturan kapal saat proses sandar,” jelasnya.
Terakhir, ia pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengonfirmasi informasi terkait layanan penyeberangan melalui kanal resmi ASDP.
“Pelabuhan tetap beroperasi. Yang ada hanya pekerjaan perbaikan pada salah satu dermaga. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkasnya. (Bey)









