Seantero.id, PASER – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser mencatat sedikitnya 171 titik panas (hotspot) tersebar di sejumlah wilayah di Bumi Daya Taka.
Meningkatnya jumlah titik panas membuat pemerintah daerah memperketat kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama menjelang puncak musim kemarau.
Kepala BPBD Paser, Ruslan, mengatakan status waspada terhadap potensi karhutla sebenarnya telah ditetapkan sejak April 2026 lalu, menyusul mulai menurunnya curah hujan di wilayah tersebut.
“Data yang kami himpun menunjukkan ada sekitar 171 titik panas yang terpantau. Berdasarkan kondisi curah hujan, status waspada sudah kami tetapkan sejak April lalu,” ujar Ruslan, Senin (11/5).
Ia menjelaskan, kondisi geografis Kabupaten Paser yang memiliki kawasan hutan dan lahan cukup luas menjadi salah satu faktor tingginya kerawanan karhutla.
Selain itu, wilayah yang terdiri dari 10 kecamatan tersebut memiliki karakteristik iklim hutan hujan tropis, namun tetap mengalami periode kering cukup panjang saat memasuki musim kemarau.
Menurut Ruslan, penurunan curah hujan mulai terlihat sejak Maret hingga April 2026. Kondisi itu menjadi sinyal awal meningkatnya potensi kebakaran lahan.
“Sebelumnya, Januari hingga Februari intensitas hujan masih tinggi sehingga mampu menekan potensi munculnya titik panas. Namun belakangan kondisi cuaca berubah, lahan mulai mengering dan lebih rentan terbakar,” katanya.
BPBD Paser juga mewaspadai dampak fenomena El Nino yang diperkirakan dapat memperparah kondisi kekeringan dan memperpanjang musim kemarau tahun ini.
“Dengan adanya ancaman El Nino, potensi peningkatan titik panas sangat mungkin terjadi, terutama saat memasuki puncak musim kemarau nanti,” jelasnya.
Mengantisipasi hal tersebut, BPBD Paser mulai memperkuat langkah mitigasi berbasis masyarakat. Salah satunya melalui pembentukan dan pemberdayaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa rawan karhutla.
Selain patroli rutin, BPBD juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami melakukan patroli lahan secara rutin dan memberikan edukasi langsung kepada masyarakat, khususnya di desa-desa rawan. Kami juga mendorong pengelolaan lahan tanpa pembakaran sebagai langkah preventif,” pungkas Ruslan. (Bey)









